RSS

Arsip Kategori: Audio

BTL (Bridge Tie Load) Amplifer


BTL amplifier adalah dua amplifier yang dijadikan satu amplifier dengan cara kedua inputnya berbeda fasa 180 derajat dan speaker dihubungkan ke kedua output amplifier tersebut (tidak melalui ground). Prinsipnya seperti ini:

BTL amp

Saya contohkan op-amp yang memiliki prinsip kerja yang sama dengan amplifier, yaitu U1 dan U2. Tegangan input V3 dan V4 berbeda fasa 180 derajat. Penguatan tegangannya (gain) sama dengan satu agar mudah analisanya. Bentuknya seperti ini:

BTL_Vin

Tegangan output U1 dan tegangan output U2 sama persis dengan tegangan inputnya masing-masing, karena gain = 1. Namun tegangan OUT_U1 terhadap OUT_U2 adalah selisih antara tegangan OUT_U1 terhadap ground dengan tegangan OUT_U2 terhadap ground. Bentuknya seperti ini:

BTL_Vout

Selisih tegangan OUT_U1 dengan OUT_U2 adalah 2x dari tegangan OUT_U1. Ini karena tegangan OUT_U1 dengan OUT_U2 sama besar tapi beda fasa 180 derajat. Pada contoh di atas tegangan puncak OUT_U1 = 1V dan tegangan puncak OUT_U2 = -1V. Selisih tegangannya adalah 1V – (-1V) = 2V.

BTL digunakan agar tegangan maksimal output amplifier menjadi dua kalinya. Berdasarkan rumus daya = tegangan kali tegangan dibagi bebannya (P = V x V / R), maka jika tegangannya menjadi 2x sebelumnya maka daya akan menjadi 4x sebelumnya.

Tentu saja prakteknya dayanya tidak naik 4x nya karena tidak memakai power supply yang teregulasi, jadi tegangan power supply akan turun saat daya amplifier naik, sehingga tegangan maksimal amplifier sedikit lebih kecil daripada saat tidak di-BTL. Juga tergantung dari rating daya power supply nya. Karena daya output (daya maksimal amplifier) selalu lebih kecil daripada daya input (daya maksimal power supply). Efisiensi amplifier selalu kurang dari 100%. Umumnya daya amplifier yang di-BTL sekitar 2,5x sampai 3x daya maksimal saat tidak di BTL.

Pembebanan amplifier BTL

Perlu diperhatikan bahwa masing-masing amplifier “merasakan” impedansi beban setengah dari impedansi beban saat di BTL. Misalnya saat di BTL impedansi speakernya 8 Ohm, maka masing-masing amplifier seolah-olah dibebani dengan speaker 4 Ohm. Demikian juga jika saat di BTL impedansi speakernya 4 Ohm, maka masing-masing amplifier seolah-olah dibebani dengan speaker 2 Ohm.

Beban BTL

Sebelum memilih impedansi speaker pada amplifier BTL, periksa kemampuan masing-masing amplifiernya. Jika amplifier dibebani dengan impedansi terlalu rendah, diluar kemampuannya, akan sangat membahayakan amplifier tersebut.

Cara men-BTL Dua Amplifier

Ada dua cara men-BTL. Yang pertama dengan menambah sebuah resistor yang dihubungkan ke salah satu output amplifier dan ke input umpanbalik amplifier lainnya. Seperti yang dijelaskan pada artikel ini. Namun untuk pemula tidak saya sarankan.

Contoh BTL dengan resistor yang SALAH:

SimpleBTLSalah

Tegangan DC pada output amplifier U1 akan mempengaruhi tegangan DC pada output amplifier U2 melalui R8.

Penerapan yang BENAR, seperti ini:

SimpleBTLBetul

Tegangan DC output amplifier U1 melalui R8 tidak akan mempengaruhi tegangan DC output amplifier U2 karena diblok (ditahan) oleh C2.

Cara kedua adalah dengan membalik fasa salah satu input amplifiernya. Misalnya dengan rangkaian seperti ini:

Simple Balance Output

IC1A adalah op-amp dalam mode non-inverting dengan gain = 1x. Lalu outputnya digunakan sebagai input IC1B yang juga op-amp dalam mode inverting dengan gain = -1x.

Kesimpulan

Membuat amplifier BTL adalah sebuah hal yang aman kalau kita tahu caranya dan tahu keterbatasannya. Pastikan daya maksimal power supply nya mencukupi. Pastikan impedansi speakernya disesuaikan dengan kemampuan amplifernya. Dan pastikan speaker yang dipakai daya maksimalnya sesuai dengan daya maksimal amplifiernya.

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 21 April 2017 in Audio, Uncategorized

 

Variable Band Pass Filter


Speaker untuk public address seringkali hanya memiliki frekuensi respon terbatas pada daerah mid saja. Contohnya speaker corong yang biasa digunakan di masjid. Jika ada frekuensi rendah atau frekuensi tinggi diluar jangkauan speakernya umumnya akan menambah cacat suaranya. Untuk itu frekuensi diluar jangkauan speaker tersebut harus dibuang. Rangkaian untuk membuang frekuensi rendah dan frekuensi tinggi dinamakan band pass filter.

Band pass filter yang saya rancang di sini, bisa diatur batas frekuensi rendah dan frekuensi tinggi (cut-off) yang akan dibuang. Rangkaiannya seperti ini.

bandpass-filter

IC1 adalah penguat non-inverting dengan gain 4,3x. Outputnya diumpankan ke IC2A sebagai low pass filter yang frekuensi cut-off nya diatur oleh R12, yaitu sebesar 1,8kHz sampai 9,8kHz. Rangkaian ini membuang frekuensi tinggi yang tidak diperlukan. Kemudian outputnya dimasukkan ke IC2B sebagai high pass filter yang frekuensi cut-off nya diatur oleh R14, yaitu sebesar 135Hz sampai 920Hz. Rangkaian ini membuang frekuensi rendah yang tidak diperlukan.

R16 untuk mengatur volume. IC2C dan IC2D sebagai buffer yang memiliki output berbeda fase 180 derajat. Jika digunakan untuk speaker impedansi rendah (kurang dari 16 Ohm), maka cukup dipakai salah satu output dari IC2C atau IC2D. Kalau dipakai untuk speaker impedansi tinggi yang mengikuti standard 70V atau 100V line distribution, kedua output IC2C dan IC2D bisa digunakan untuk membuat amplifier BTL (Bridge Tie Load) sehingga output amplifier tidak perlu trafo matching.

Power supply memakai tegangan simetris 15VDC yang teregulasi.

Jika tidak mau bersusah payah membuat layout PCB nya sendiri, maka PCB bisa dibeli di sini: https://www.tokopedia.com/dadesign/pcb-dad-bpf-v01

 

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 12 November 2016 in Audio, Uncategorized

 

FX8 Modification


FX8 adalah rancangan APEX di diyaudio.com yang memakai input LTP, pembalik fasa dan VAS simetris dengan output lateral mosfet. Saya memodifikasinya agar THD lebih kecil dan slew rate lebih tinggi. Ini simulasi dari modifikasi saya. Kemudian saya membuat layout PCB seperti ini. Kemudian salah seorang anggota diyaudio.com yang nickname-nya Prasi, merapikan layout saya sehingga menjadi seperti ini dan ini.

Layout PCB dari Prasi pertama kali dites oleh anggota diyaudio.com, Xrk971 pada thread tersebut. Dia juga membandingkan beberapa amplifier sederhana dengan cara merekam suara dari speaker dan FX8 ini memiliki cacat yang paling rendah. Xrk971 juga meng-upload rekaman suara dari speaker yang memakai amplifier-amplifiernya termasuk FX8 yang bisa di download di sini. Dari komentar-komentar pada thread tersebut, banyak yang suka karakter suara yang dihasilkan oleh FX8.

Ada satu lagi anggota diyaudio.com (orang asing) yang membuat FX8 ini tapi saya lupa namanya. Beberapa teman saya juga sudah mencoba FX8 ini, misalnya Charlie Elang, Wawan Dermawan, dan Waluyo Jonoperwito.

Terakhir, saya membuat modifikasi agar cacat H2 nya lebih besar dengan menambah resistor 100K ohm di basis-collector transistor VAS dan sudah dicoba oleh Wawan Dermawan dan Waluyo Jonoperwito. Mereka lebih suka dengan modifikasi ini.

Jika Anda tertarik membuatnya dan tidak mau repot-repot membuat PCBnya, silakan hubungi Daniel Suroyo.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 September 2016 in Audio, Uncategorized

 

Amplifier Perkutut-Pro


Masih banyak orang ingin merakit amplifier murah dengan daya yang relatif tinggi. Namun sayangnya saya belum menemukan rancangan amplifier yang sederhana, murah, dan berkualitas cukup baik. Masih banyak kit amplifier yang dirancang secara asal sehingga THD pada frekuensi tinggi sangat tinggi. Bagi yang pernah merakit amplifier gainclone seperti LM1875, LM3886, atau semacamnya mungkin tidak sanggup untuk mendengarkan kit amplifier transistor daya tinggi yang umum dijual di toko-toko, berlama-lama.

Rancangan amplifier saya yang sederhana seperti Emprit, AKSA 55 clone, Perkutut, tidak bisa dimodifikasi secara sederhana untuk menghasilkan daya tinggi namun kualitas suaranya tetap sama. Apalagi kali ini saya ingin memakai transistor yang mudah dicari di toko-toko. Pemakaian transistor yang mudah didapat tersebut tidak optimal dan makin menurunkan kualitas suara yang dihasilkan.

Setelah mencoba beberapa kali akhirnya saya memutuskan untuk memakai topologi Perkutut dengan modifikasi bagian VAS dengan memakai Hawksford cascode. Ini bisa menurunkan THD secara signifikan. Agar THD tidak berubah terlalu besar pada beban impedansi rendah, saya memutuskan untuk memakai output triple emitter follower (TEF). Amplifier ini saya namakan Perkutut-Pro dan hanya bisa dibebani dengan impedansi paling kecil sebesar 4 Ohm. Power supply bisa dari +-63VDC sampai +-77VDC.

Big-big Perkutut sch

Bagian input terdiri dari transistor Q1 dan Q2 yang difungsikan sebagai penguat diferensial atau LTP (Long Tailed Pair). Karena tidak memakai cermin arus maka DC Offset sulit menjadi kecil dengan pemakaian nilai resistor yang standard. Untuk itu diperlukan pengaturan DC Offset yaitu dengan R8. Q1 dan Q2 perlu ditempelkan dan diikat agar DC Offset stabil terhadap suhu.

Untuk bagian VAS (Voltage Amplification Stage), memakai Hawksford cascode, yaitu Q3, Q4, dan LED1. LED1 harus led warna hijau, yang memaksa tegangan kolektor-emitor Q4 tetap. Ini mengakibatkan berkurangnya efek Early Voltage.  Q3 bisa diganti dengan transistor video yang memiliki Cob kecil, namun sulit dicari di toko-toko. Penggunaan VAS seperti ini akan menurunkan THD secara signifikan, seperti pada amplifier Blameless 1200 dan Elang Amplifier rancangan saya.

Bagian output memakai triple emitter follower (TEF), sehingga input impedansinya tinggi dan mengurangi cacat pada bagian VAS. Namun sayangnya TEF ini mudah berosilasi kalau rancangannya tidak benar dan perancangan arus biasnya juga sulit untuk presisi. Ada beberapa cara kompensasi TEF, bisa pada transistor pre-driver-nya atau pada transistor driver-nya. Saya lebih suka memakai kompensasi pada transistor drivernya karena tidak mempengaruhi slew rate secara signifikan.  Rangkaian kompensasi tersebut adalah R34, C19 dan R35, C20.

Untuk bias servonya sendiri memakai 2 transistor Q5 dan Q6. Q5 ditempelkan pada pendingin transistor driver Q11 dan Q12 yang berupa lembaran aluminium. Sedangkan Q6 ditempelkan pada pendingin transistor final. Arus bias diatur dengan R25 sebesar 30mA atau 6,6mV pada resistor 0,22Ohm 5watt.

Hasil Simulasi

Power Supply 77VDC
Phase Margin = 77 derajat
Gain Margin = 12 dB
THD pada 280W/8Ohm, 1kHz -> 0.006826%
THD pada 280W/8Ohm, 20kHz -> 0.009644%
Slew Rate = 58 V/uS
PSRR pada 1kHz -> 113 dB

Daya maksimal sekitar 560W rms pada 4 Ohm. Diperlukan trafo 55VAC CT 10A.

Power Supply 63VDC
Phase Margin = 76 derajat
Gain Margin = 11 dB
THD pada 182W/8Ohm, 1kHz -> 0.005477%
THD pada 182W/8Ohm, 20kHz -> 0.008397%
Slew Rate = 44 V/uS
PSRR pada 1kHz -> 112 dB

Daya maksimal sekitar 350W rms pada 4 Ohm. Diperlukan trafo 45VAC CT 10A.

Contoh Layout

Big-big Perkutut top


Big-big Perkutut bottom

 

 
16 Komentar

Ditulis oleh pada 2 Februari 2016 in Audio

 

Tag: ,

AX16(AX14) Modification


Saya mengikuti thread ini di forum diyaudio. Lalu saya lihat schematic AX16 rancangan dari Apex. Saya tidak tahu kalau AX16 itu adalah AX14 yang ditambahkan proteksi arus lebih (over current). Saya tertarik untuk membuat simulasinya tanpa menyertakan rangkaian proteksi tersebut. Ini file simulasinya.

Kemudian saya memodifikasinya agar THD-nya lebih kecil dan slew rate –nya lebih tinggi. Sehingga jadinya seperti ini, termasuk layout PCB nya. Namun atas saran dari salah seorang anggota forum tersebut, akhirnya skematik dan PCB layoutnya menjadi seperti ini.

Untuk men-download file-file tersebut, kita harus mendaftar menjadi anggota forum tersebut.

Cara Kerja AX16(AX14) Modifikasi

Amplifier ini memakai topologi Lin atau Blameless (istilah dari Douglas Self). Yaitu bagian input memakai penguat diferensial atau Long Tail Pair (LTP), diikuti penguat tegangan utama atau Voltage Amplification Stage (VAS) dan terakhir adalah bagian output sebagai penguat arus.

Bagian LTP dibentuk oleh transistor Q1 dan Q5 yang memiliki kriteria low noise dan hFE-nya tinggi. Arus LTP ditentukan oleh sumber arus tetap Q3. Arus kolektor Q3 = (tegangan maju LED merah – VBE) / R7 yaitu sekitar 3,7mA. R9 untuk mengatur DC Offset. Beban LTP memakai cermin arus Q2 dan Q4 sehingga penguatan tegangan pada LTP cukup tinggi. D1 digunakan sebagai clamping agar saat clipping tidak terjadi “sticky” atau sinyalnya seolah-olah lengket ke power supply selama beberapa saat.

Untuk VAS-nya sendiri memakai konfigurasi Baxandall super-pair, Q7 dan Q9, suatu jenis kaskade yang ditemukan oleh Baxandall. VAS seperti ini sering dipakai Yamaha pada amplifiernya. VAS tersebut dibebani oleh sumber arus tetap yang dikonfigurasikan juga sebagai Baxandall super-pair, yaitu Q6 dan Q8. Sebenarnya sumber arus tetap ini bisa memakai satu transistor saja, namun saya tidak ingin mengubah terlalu banyak. Besarnya sumber arus tetap ini sekitar 6,4mA.

Kompensasi amplifier ini memakai kompensasi Transitional Miller Compensation (TMC), yaitu C6, C7, dan R16. Agar mendapatkan phase margin dan gain margin yang baik, maka ditambahkan C8 dan R19.

Kemudian bagian output memakai double emitter follower, Q11, Q12, Q13, dan Q14. Q11 dan Q12 bekerja pada kelas A, sedangkan Q13 dan Q14 bekerja pada kelas AB. Agar arus biasnya stabil, maka dipakai bias servo Q10. Arus bias sekitar 110mA yang diatur oleh R23.

Amplifier ini sudah dicoba oleh salah seorang anggota forum tersebut. Hasilnya seperti ini.

Pengaturan DC Offset dan Arus Bias

Sebelum amplifier dinyalakan, atur R23 agar tahanannya maksimal. Lalu Input SL1 dihubungsingkat dan pada output tidak dihubungkan apapun. Hidupkan amplifier. Atur R23 agar tegangan antara emitor Q13 dan Q14 sebesar 48mV sampai 52mV. Ini akan menghasilkan arus bias sekitar 110mA. Setelah itu atur R9 agar tegangan antara OUTPUT dan GROUND nol volt, maksimal +-10mV.

Matikan amplifier dan SL1 dikembalikan seperti sebelumnya. Amplifier siap digunakan.

Selamat mencoba.

 

 
19 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Desember 2015 in Audio

 

Tag: ,

OTL Amplifier


Jaman dulu, sekitar sampai tahun 80an, masih banyak amplifier pabrikan yang memakai output capacitor karena pemakaian catu daya tunggal. Amplifier ini dinamakan OTL (Output Transformerless) atau amplifier dengan output tanpa memakai trafo. Pada jaman itu masih banyak amplifier bekerja di kelas B.

Jika Anda ingin bernostalgia membuat amplifier OTL tapi dengan transistor jaman sekarang dan bekerja pada kelas AB, maka amplifier ini adalah jawabannya.

OTL AMPLIFIER SCH

Sedikit banyak, mungkin Anda sudah familiar dengan skema di atas. Perbedaannya utama amplifier ini dengan amplifier OTL jaman dulu ada dua hal. Yang pertama adalah pemakaian VAS dua transistor Q2 dan Q3 dalam konfigurasi CFP (Complementary Feedback Pair) atau Sziklai. Yang kedua adalah Q4 yang berfungsi sebagai bias servo. Ini merupakan suatu keharusan jika membuat amplifier kelas AB dengan output transistor bipolar. Q4 harus ditempel dalam satu pendingin dengan Q5, Q6, Q7, dan Q8.

R3 digunakan untuk mengatur tegangan TP1 setengah dari tegangan catu daya. Jadi karena catu dayanya memakai tegangan 70VDC maka tegangan TP1 menjadi 35VDC. R14 digunakan untuk mengatur arus bias transistor Q7 dan Q8. Atur R14 agar tegangan antara TP2 dan TP1 sebesar 23mV sehingga arus biasnya menjadi sekitar 70mA.

Kompensasi amplifier ini memakai kapasitor Miller C6 dan lead compensation C7. Gainnya sebesar 1 + (R10 / R9).

Pemakaian elco di jalur sinyal tidak terhindarkan, yaitu pada C15. Ini akan meningkatkan cacat di frekuensi rendah. Namun kualitas elco jaman sekarang jauh lebih baik daripada jaman dulu. Pastikan untuk memakai elco yang bagus untuk C15 ini.

R26 adalah resistor 4.7 Ohm 1 Watt yang diparalel dengan induktor 1uH yang dibuat dengan kawat email dengan diameter 1mm digulung ke spidol yang diameternya 15mm sebanyak 9 lilitan, dililit dengan rapat.

Hasil Simulasi

Phase Margin = 75 derajat.
Gain Margin = 15 dB
THD pada 46W/8Ohm, 1kHz -> 0.003279%
THD pada 46W/8Ohm, 20kHz -> 0.016453%
Slew Rate = 64 V/uS
PSRR 1khz = 85 dB

Layout PCB

OTL AMPLIFIER TOP

OTL AMPLIFIER BOTTOM

Cara Setting

Setelah amplifier dihidupkan, atur R3 agar tegangan TP1 terhadap ground setengah tegangan catu daya (sekitar 35VDC). Lalu atur R14 agar tegangan TP2 terhadap TP1 sebesar 23mV. Sekali lagi periksa tegangan TP1 terhadap ground, atur kembali jika berubah.

Selamat mencoba.

 
13 Komentar

Ditulis oleh pada 16 November 2015 in Audio

 

Tag: ,

Bass Shaker Amplifier


Selama ini saya selalu memakai transistor final dengan fT tinggi, karena saya penggemar slew rate yang tinggi. Namun saya memiliki transistor bekas seperti MJ15003 dan MJ15004 yang fT nya sangat kecil dibandingkan transistor final jaman sekarang. Saya ingin memanfaatkan transistor tersebut. Tentu saja slew rate nya tidak boleh terlalu tinggi, bisa membahayakan transistor tersebut. Jadi yang cocok adalah amplifier untuk subwoofer. Saya akan memakai transistor yang mudah didapatkan di toko-toko sehingga akan mudah dibuat oleh teman-teman saya di daerah.

Topologi amplifier kelas AB yang memiliki keunggulan di frekuensi rendah adalah topologi simetris. Maka saya akan memakai topologi penemuan saya ini. Setelah saya simulasikan beberapa kali untuk mencoba beberapa kemungkinan, maka hasilnya seperti ini.

bass shaker amp sch

Cara Kerja

Input amplifier ini memakai dua LTP yang simetris, Q3-Q5 dan Q4-Q6. Masing-masing LTP arus kerjanya ditentukan oleh sumber arus tetap atau CCS Q1 dan Q2 yang besarnya sekitar 3mA. Trimpot R10 digunakan untuk mengatur DC Offset. Pada bagian VAS juga memakai dua LTP yang simetris, Q7-Q9 dan Q8-Q10. Kompensasinya hanya memakai kompensasi Miller biasa, C8 dan C9. Sengaja saya tidak memakai lead compensation karena tidak memerlukan slew rate yang tinggi.

Bagian output memakai triple emitter follower (TEF) dikarenakan dua hal. Pertama, ini memungkinkan saya memakai arus kerja pada VAS yang cukup kecil yaitu sekitar 4mA sehingga saya bisa memakai transistor 2N5401/2N5551 pada bagian VAS. Kedua, karena nilai hFE transistor final yang turun drastis saat arus kolektornya naik. Ini mengakibatkan cacat yang cukup tinggi. Dengan memakai TEF total penguatan arus bagian output jadi sangat tinggi, jadi penurunan hFE tersebut pengaruhnya sangat kecil.

Pada bagian bias servo saya memakai konfigurasi darlington. Koefisien suhu Q12 sebesar -6mV/derajat Celsius dan koefisien suhu transistor final adalah 2 kali VBE, yaitu -4,4mV/derajat Celsius. Q12 ditempelkan pada pendingin transistor final sehingga saat transistor final panas arus biasnya akan sedikit turun. Arus bias optimum pada 75 mA.

Hasil Simulasi

Pada simulasi saya memakai transistor final MJL21194 dan MJL21193 yang memiliki fT rendah sekitar 4 MHz. Model transistor ini dari Bob Cordell yang terkenal sangat akurat. Untuk transistor final MJ15003 dan MJ15004 akan menghasilkan cacat yang sedikit lebih tinggi.

Pada power supply +-56VDC:
Phase Margin = 79 derajat
Gain Margin = 18 dB
THD pada 127W/8Ohm, 1kHz -> 0.003665%
THD pada 127W/8Ohm, 20kHz -> 0.020241%
Slew Rate = 46 V/uS
PSRR pada 1kHz = 112 dB

Pada power supply +-45VDC:
Phase Margin = 78 derajat
Gain Margin = 18 dB
THD pada 78W/8Ohm, 1kHz -> 0.003428%
THD pada 78W/8Ohm, 20kHz -> 0.022291%
Slew Rate = 46 V/uS
PSRR pada 1kHz = 110 dB

Layout PCB

bass shaker amp top

bass shaker amp bottom

Konstruksi

Agar DC Offset stabil terhadap suhu maka setiap transistor LTP ditempel badannya dan diikat, yaitu Q3 dan Q5, Q4 dan Q6, Q7 dan Q9, serta Q8 dan Q10.

Transistor final memakai heatsink siku dan heatsink sirip yang cukup besar. Jangan pelit soal heatsink ini, usahakan agar dapat digunakan tanpa kipas/fan.

Trafo yang digunakan 35 sampai 40V CT 5A untuk mono.

Cara pengaturannya sederhana. Pertama, atur R10 agar DC Offset mendekati nol, atau paling besar +-10mV. Lalu ukur tegangan kedua kaki resistor 0.22 5 watt (probe hitam dan merah pada kedua kaki resistor tersebut). Atur R35 agar tegangannya menunjukkan 16mV sampai 17mV. Lalu periksa kembali DC Offset, jika berubah atur kembali.

Amplifier ini cocok digunakan sebagai amplifier subwoofer dengan subwoofer controller.

Implementasi

PCB amplifier ini dibuat oleh Panggih Sugiartono (terimakasih ya). Belum diberi heatsink yang memadai, jadi arus biasnya dibuat kecil. Suaranya bagus, bahkan di frekuensi tinggipun juga masih bagus. Untuk review-nya akan dibuat setelah diberi heatsink yang memadai.

BassShakerAmplifier

BassShakerAmplifier1

Selamat mencoba.

Update 20 Juni 2017

Beberapa teman komplain, VAS transistor ini terlalu panas jika memakai power supply 56VDC. Solusinya ada dua yaitu:

  1. Q7 dan Q9 ditempel ke lempengan aluminium dengan lem thermal. Demikian juga dengan Q8 dan Q10.
  2. R27 dan R28 diganti nilainya menjadi 150 Ohm.
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Oktober 2015 in Audio

 

Tag: ,

 
%d blogger menyukai ini: