RSS

Orang-orang Penting Yang Mempengaruhi Saya Dalam Perancangan Amplifier

29 Mei

Saat saya membuat amplifier VSSA versi saya, saya terkejut. Hasilnya tidak saya sangka-sangka. Suaranya sangat “airy“. Padahal amplifier saya sepuluh tahun sebelumnya yang bandwidth full power mencapai 120kHz, tidak se-“airy” ini. Saya menjadi penasaran apa yang menyebabkannya, apakah karena topologinya (CFA = current feedback amplifier) atau karena slew rate-nya yang sangat tinggi. Demikian pikiran lugu saya saat itu.

VSSA memiliki topologi CFA yang dipatenkan pada tahun 1984. Namun saya mengenal topologi ini pada tahun 2013 melalui VSSA tersebut. Topologi ini memiliki keunggulan mudah untuk mendapatkan slew rate tinggi, namun kelemahannya PSRR cukup kecil dan DC Offset yang mudah bergeser (drift) jika tidak memakai DC servo. Kebetulan saat itu saya sedang belajar simulasi dengan LTSpice. Dadod (Damir), seorang anggota forum diyauido, mengajari saya cara menggunakan Tian Probe untuk menghitung phase margin dan gain margin. Bonsai (Andrew) menjelaskan banyak hal kepada saya, dan blog-nya sangat menarik. Hasil simulasi VSSA versi saya ada di artikel lain di blog saya.

Untuk memenuhi rasa penasaran, saya merancang amplifier dengan topologi VFA (voltage feedback amplifier), topologinya sama dengan Blameless-nya Douglas Self. Sengaja saya buat slew rate nya sangat tinggi untuk membuktikan apakah slew rate yang “bertanggung jawab” atas suara “airy” atau bukan. Ternyata suaranya bisa “airy“!

Kemudian saya mengikuti thread tentang AKSA 55 clone. Di sana saya mengenal Hugh Dean, perancang AKSA 55 yang asli. Skematik AKSA 55 tidak dipublikasikan seluruhnya. Beberapa orang berusaha menebak skema aslinya dan membuat clone-nya. Menurut Hugh Dean, amplifier yang dia sukai adalah yang cacat harmonik keduanya dominan, makin besar orde harmoniknya, makin kecil amplitudonya. Berdasarkan “petunjuk” tersebut saya membuat simulasinya. Menurut Hug Dean, saya detektif yang bagus, hehehe.

Pada dasarnya saya penggemar suara “amplifier” seakurat mungkin, tapi saya ingin tahu juga selera orang lain. Jadi saya merancang banyak amplifier dengan berbagai macam topologi dan konsep yang berbeda-beda. Dari sekian banyak orang yang mencoba amplifier saya, kebanyakan suka yang cacat harmonik keduanya dominan.

Tentu saja masih banyak orang-orang yang memiliki kontribusi dalam pemahaman saya mengenai amplifier baik secara langsung atau tidak langsung. Untuk orang-orang Indonesia, misalnya: Bapak Yustinus (AudioKitchen) yang bersedia meminjamkan speaker Celestial rancangannya yang paling top. Bapak Hardy Nanda yang bersedia mengajari saya tentang proses yang terjadi di studio rekaman. Orang-orang yang membuat rancangan saya baik yang gratis maupun yang komersial dengan kritik dan sarannya.

Merancang amplifier itu menyenangkan!

 

 

 

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 29 Mei 2016 in Uncategorized

 

8 responses to “Orang-orang Penting Yang Mempengaruhi Saya Dalam Perancangan Amplifier

  1. tukang nyimak :-)

    29 Mei 2016 at 22:08

    ditunggu karya yang lebih bagus bagi diy ,mungkin dengan pangsa menengah ke atas pak

     
    • anistardi

      29 Mei 2016 at 23:04

      Silakan dicoba Blameless 100 Limited Edition yang memakai PCB dan komponen berkualitas. Blameless 100 yang biasa sudah didemokan dan dibandingkan dengan amplifier pabrikan yang harganya lebih mahal. Namun sulit amplifier lainnya menandingi kualitas frekuensi tingginya. Mungkin perlu amplifier yang harganya berkali-kali lipat untuk menandingi kualitas frekuensi tingginya.

       
  2. tanto

    29 Mei 2016 at 23:21

    pernahkah pak anis mendengar tentang balance phono amplifier
    dimana sinyal audio bukan jalur input dan ground ,tetapi menjadi hot dan cold
    begitu juga sinyal output juga hot dan cold
    dirancang mulai preamp sampai power ampli
    dulu saya pernah baca di majalah elektron karya anak ITB
    di percaya memiliki noise yang kecil
    sayangnya majalah elektron sudah punah sekarang

     
    • anistardi

      30 Mei 2016 at 00:42

      Pernah. Kalau tidak salah ingat, seorang anggota diyaudio.com ada yang merancang hal seperti itu.
      Rangkaian balance akan meminimalkan pengaruh ground sehingga hum kecil, juga pengaruh noise dari luar yang mungkin bisa menginterferensi kabel inter-connect. Namun signal to noise ratio akan lebih besar rangkaian unbalance daripada yang balance. Jadi tetap ada keuntungan dan kerugiannya. Rangkaian balance bisa juga memiliki signal to noise ratio yg tinggi, hanya rangkaiannya akan menjadi lebih mahal daripada rangkaian unbalance.

       
      • tanto

        30 Mei 2016 at 00:55

        betul lebih mahal karena rangkaian akan jadi dobel
        dan tidak mudah diaplikasikan untuk rumahan

         
      • anistardi

        30 Mei 2016 at 01:42

        Kalau aplikasinya mudah😀 asal ada dananya.

         
  3. Abinyu

    31 Mei 2016 at 00:51

    Menyimak saja sudah merasa senang.. Saya pemula yang senang membaca blog ini. Salam Sejahtera untuk Anda Pak Anistardi. Thanks

     
  4. Gantex

    5 Juni 2016 at 18:29

    Ikut nyimak saja kang anis 😊 lama tidak kelihatan.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: