RSS

Dasar-dasar Perancangan Mixer (Bagian II)

20 Feb

Sumber sinyal yang diambil dari microphone adalah mono (satu sinyal tunggal), namun sistem audio yang umum dipakai adalah stereo (dua sinyal untuk speaker kanan dan kiri). Untuk menempatkan “posisi” sumber sinyal tersebut di antara speaker kiri dan kanan di perlukan pengaturan yang dinamakan panpot (panoramic potentiometer). Panpot ini akan membagi sumber sinyal tersebut ke dua jalur stereo yang proporsinya bisa di atur. Jika dibagi sama besar maka sinyal akan berada di tengah.

Agar panpot memberikan pengaturan yang halus untuk stereo (penempatan posisi sumber suara), maka pengaturan panpot harus mengikuti kurva sinus atau cosinus, seperti di bawah ini.

kurvapanpot

Jika posisi panpot di tengah, maka kedua sinyal kiri dan kanan masing-masing mendapatkan sinyal sebesar -3 dB.

Namun sayangnya, potensiometer yang mengikuti kurva sinus/cosinus sangat jarang. Kebanyakan yang beredar di pasaran adalah potensiometer yang memiliki kurva linier dan logaritmis. Pengaturan dengan kurva sinus/cosinus bisa didekati dengan potensiometer linier yang dibebani dengan resistor seperti di bawah ini.

lawbendingpanpot

Kurvanya seperti ini (untuk salah satu potensio).

lawbendingpanpotkurva

Kualitas potensiometer untuk panpot sangat penting. Seringkali posisi panpot diujung namun salah satu channel masih tetap menerima sinyal walaupun kecil, sehingga lebar stereo jadi sempit. Bocoran sinyal sebesar -65 dB masih dimungkinkan.

Agar lebih mendekati kurva sinus/cosinus digunakan aktif panpot, yaitu patpot dengan komponen aktif yang berupa op-amp. Rangkalannya ada di bawah ini.

aktifpanpot

Rlaw pada pasif panpot diganti dengan variable impedansi negatif yang dibentuk oleh op-amp. Kurvanya seperti ini.

aktifpanpotkurva

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 20 Februari 2015 in Audio

 

Tag:

6 responses to “Dasar-dasar Perancangan Mixer (Bagian II)

  1. Andika Xp

    22 Februari 2015 at 18:40

    wah ternyata blog mas Anistardi ini mengulas tentang elektronik juga ya🙂

    saya sangat tertarik untuk belajar elektrok, namun sayang saya ga sempat sekolah di bagian ini. ijin buat belajar ya😀

     
  2. kf

    23 Februari 2015 at 19:30

    Bahasannya berbobot, sebetulnya sangat mudah dipahami, tapi karena saya aja yang kurang mood utal-atik jadi berat juga memahaminya….

     
    • anistardi

      23 Februari 2015 at 19:35

      Tapi ini hanya pancingan saja agar yang tertarik belajar lebih dalam dengan buku-buku teknik. Jadi pembahasannya tidak terlalu dalam dan mendetail.

       
  3. noise

    24 Februari 2015 at 15:21

    Pak mohon bimbinganya saya masih baru blajar merakit power kecil2lan ,cara mengukur DC offset & bias dengan Avo meter yang benar itu bagaimana,

     
    • anistardi

      24 Februari 2015 at 16:47

      Artikel yang membahas tentang arus bias adalah ini dan ini.
      Sedangkan artikel yang membahas tentang DC Offset adalah ini.
      Cara pengukuran DC Offset dengan mengukur tegangan output amplifier terhadap ground saat tidak ada sinyal input atau input dihubung singkat ke ground.
      Kalau pengurukuran arus bias bisa secara langsung diukur arus kolokter atay arus emitor transistor final, atau secara tidak langsung dengan mengukur tegangan resistor emitor pada transistor final. Kalau secara tidak langsung, arus biasnya sama dengan tegangan resistor emitor dibagi nilai resistor tersebut (hukum Ohm).

       
  4. kf

    1 Maret 2015 at 20:49

    manttaaaapppp pak anis motivasinya

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: