RSS

Sound System Yang Terdistribusi

04 Nov

Instalasi banyak speaker yang terletak saling berjauhan akan menimbulkan banyak rugi-rugi daya karena pemakaian kabel yang sangat panjang. Belum lagi kebutuhan kabel dengan penampang besar yang harganya akan sangat mahal jika sangat panjang. Jadi sistem ini tidak bisa memakai perkabelan seperti layaknya sound system untuk rumahan atau untuk audio pro (biasa disebut audio untuk lapangan).

Untuk menghindari rugi-rugi daya pada penggunaan kabel yang sangat panjang, maka tegangan keluaran pada amplifier dinaikkan setinggi mungkin kemudian pada speaker tegangan tersebut diturunkan lagi dengan trafo. Speaker untuk keperluan ini seringkali sudah menyertakan trafo penurun tegangan pada paket penjualannya. Misalnya speaker horn (corong) yang digunakan pada masjid.

Kabel memiliki tahanan atau resistansi. Makin besar penampang (diameter) kabel makin kecil tahanan per meternya. Makin besar arus yang mengalir pada kabel, makin besar pula rugi-rugi dayanya. Jika tahanan speaker dibuat tinggi maka arus yang mengalir melalui kabel akan kecil. Tahanan dari kabel dihubungkan secara seri dengan tahanan speaker maka jika tahanan speaker jauh lebih besar dari tahanan pada kabel maka rugi-rugi daya akan kecil.

Ada dua standard pada sistem audio yang terdistribusi ini. Yang pertama sistem 70V yang digunakan di Negara Amerika Serikat dan sistem 100V yang digunakan oleh negara-negara di Eropa. Indonesia mengikuti standard 100V. Standard ini secara resmi disebut  constant-voltage distribution method (metode distribusi tegangan tetap). Istilah 70V dan 100V adalah untuk menyebutkan bahwa tegangan keluaran amplifier pada daya maksimalnya adalah 70V rms dan 100V rms.

Gambar perkabelan speaker pada sound system rumahan atau lapangan.

Instalasi_biasa

Gambar perkabelan speaker pada sistem yang terdistribusi dengan trafo pada keluaran amplifiernya.

Instalasi_terdistribusi_trafo_output

Gambar perkabelan speaker pada sistem yang terdistribusi dengan amplifier yang di BTL (Bridge Tie Load).

Instalasi_terdistribusi_bridge_output

Tidak mudah membuat amplifier yang dapat menghasilkan tegangan 70Vrms apalagi 100Vrms. Tegangan power supply amplifier tersebut harus sedikit lebih tinggi daripada tegangan puncak keluarannya. Untuk sistem 70V diperlukan tegangan power supply sedikit lebih besar dari +-99V DC dan untuk sistem 100V sedikit lebih besar dari +-142V DC. Agar bisa memakai rancangan amplifier yang umum maka diperlukan trafo untuk menaikkan tegangan keluarannya. Bisa juga dengan cara BTL (Bridge Tie Load). Daya amplifier tergantung kebutuhan. Jika dibuat amplifier dengan daya 100W rms, maka untuk sistem 70V amplifier tersebut harus mampu dibebani tahanan 49 Ohm, sedangkan untuk sistem 100V harus mampu dibebani 100 Ohm.

Sekarang ini banyak sistem yang terdistribusi ini memakai amplifier BTL. Mungkin harganya satu amplifier lebih murah daripada trafo pada keluaran amplifier. Namun pada amplifier BTL ini tidak ada isolasi antara amplifier dan kabel transmisinya. Kadang-kadang diperlukan isolasi tersebut.

Spesifikasi amplifier untuk sistem terdistribusi ini umumnya tidak perlu yang high – fidelity (kualitas suara tidak terlalu penting). Dengan penggunaan trafo, bandwidth nya sulit mencapai keseluruhan frekuensi audio.

Iklan
 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 4 November 2014 in Audio

 

Tag:

4 responses to “Sound System Yang Terdistribusi

  1. kf

    13 Januari 2015 at 19:45

    Pak anis, mau tanya mohon penjelasan, ada 2 buah speaker masing2 dengan impedansi 8 OHM, namun yang satu 12″ dan yang satunya lagi 4 inch.

    Kalau menurut yang saya pahami kedua speaker tersebut akan menyerap daya yang sama ketika diberikan level tegangan power amplifier yang sama.

    Namun dalam kenyataanya, speaker yang 12 inch akan menyerap daya yang lebih besar ketimbang yang 4″, bagaimana penjelasannya pak, apa ada yang salah dengan pemahaman saya ?

     
    • anistardi

      13 Januari 2015 at 19:59

      Daya listrik = tegangan kuadrat dibagi impedansi. Jika impedansinya sama dan tegangannya sama, maka dayanya akan sama.
      Tapi belum tentu suaranya sama kencangnya (daya akustik). Perubahan daya listrik ke daya akustik pada speaker disebut efisiensi speaker yang satuannya dinyatakan dalam dB/W/m. Tiap-tiap speaker efisiensinya berbeda-beda.

       
      • kf

        13 Januari 2015 at 21:55

        trimakasih pak anis atas penjelasannya, saya coba pahami penjelasan pak anis….karena pada prakteknya walaupun sensitivitas kedua speaker kira2 sama yaitu 90an db/w/m….namun yang 12 inch memberikan suara yang jauh lebih nyaring (tinggi decibelnya)

         
  2. sirah

    2 Juni 2015 at 01:54

    amat manfaat dan bermanfaat

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: