RSS

Retro Amplifier

13 Mei

Saat transistor ditemukan, rancangan amplifier meniru amplifier tabung dengan memakai transformator (trafo), baik pada input dan outputnya. Amplifier semacam ini bisa kita temukan pada radio jaman dulu dan masih dipraktekkan di sekolah pada tahun 1980-an. Kemudian disadari bahwa transistor memiliki penguatan arus yang besar dan bekerja pada tegangan yang jauh lebih rendah daripada tabung sehingga tidak ada alas an untuk penggunaan trafo pada jalur sinyalnya. Muncullah sebutan OTL (Output Transformator Less). Karena penggunaan tegangan power supply tunggal, maka penghilangan trafo menyebabkan speaker tidak bisa dihubungkan secara langsung ke amplifier. Tegangan output amplifier umumnya setengah dari tegangan power supply. Speaker dihubungkan dengan kapasitor (elco) untuk mencegah tegangan DC membakar spul speaker. Amplifier semacam ini popular pada tahun 1970-an.

Amplifier tersebut memakai satu transistor pada inputnya (singleton). Ini adalah salah satu contohnya dengan memakai transistor yang modern.

RETRO_AMP

Transistor input Q8 dibias oleh diode zener D1 melalui R15. Basis Q8 sekitar 35,8V dengan R14 ke output yang berfungsi sebagai resistor umpan balik, maka tegangan output menjadi 33,7V hampir setengan tegangan power supply yang besarnya 70V. Q1 sebagai VAS dengan beban resistor R2 dan R6 yang di bootstrap menentukan besarnya arus kolektor VAS tersebut sebesar 5mA. Q2 sebagai VBE multiplier untuk memberikan arus bias pada transistor keluaran agar bekerja pada kelas AB. Arus bias diatur dengan R5 sebesar 16mA. Q3, Q4, Q6, dan Q7 dikonfigurasikan sebagai CFP atau Sziklai. Agar arus bias stabil terhadap suhu, Q2, Q3, dan Q4 harus dipasang pada satu pendingin kecil yang terpisah dari pendingin Q6 dan Q7.

C3 sebagai kompensasi Miller sengaja nilainya dipilih agak kecil agar slew rate nya tinggi. Agar amplifier lebih stabil dipasang C4 sebagai lead kompesasi.

Penguatan tegangan sebesar 1 + (R14/R13) yaitu 32,4 kali atau 30,2dB.

Hasil simulasi

Performa rangkaian ini yang di dapat dengan simulasi adalah sebagai berikut:

Phase Margin sebesar 88 derajat dan Gain Margin sebesar 13 dB. Jadi amplifier ini stabil.

Total Harmonic Distortion (THD) Kondisi
0.002700% 45 Watt rms, 8Ohm, 1kHz
0.023482% 45 Watt rms, 8Ohm, 20kHz

Slew rate sebesar 35V/µS. Daya maksimal 55 Watt rms pada 8 Ohm dan 75 Watt rms pada 4 Ohm.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Mei 2014 in Audio

 

Tag: , ,

2 responses to “Retro Amplifier

  1. sekopati

    10 Oktober 2014 at 09:09

    untuk versi tegangan split ada atau tidak pak?

     
    • anistardi

      10 Oktober 2014 at 11:01

      Untuk input satu transistor atau singleton, kalau pakai tegangan split, DC Offset nya akan sangat terpengaruh terhadap perubahan suhu ruangan. Untuk itu perlu ditambah rangkaian untuk mengkompensasi hal tersebut. Contohnya adalah rancangan Bigun, salah seorang member dari diyaudio.com.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: