RSS

Memodifikasi Peralatan Audio

21 Mar

Barang elektronik yang paling banyak dimodifikasi mungkin adalah peralatan audio atau sound system. Mengapa orang ingin memodifikasinya? Alasan utama tentu saja tidak puas dengan kualitas barang tersebut. Ingin membeli yang lebih tinggi kualitasnya belum bisa, sehingga timbul keinginan untuk memodifikasi. Siapa tahu dengan dana yang sedikit dapat meningkatkan kualitasnya secara signifikan. Peralatan audio di sini tidak hanya barang jadi tapi termasuk KIT.

Karena permintaan modifikasi ini cukup banyak, maka banyak juga orang-orang yang menawarkan jasanya, dari tukang service sampai yang hanya hobi merakit elektronik.

Sebenarnya dapatkah peralatan audio tersebut dimodifikasi? Pasti bisa. Bisa meningkatkan kualitasnya bisa juga menurunkan kualitasnya jika dilakukan oleh orang yang tidak mengerti elektronik.

Memodifikasi barang elektronik hampir sama dengan merancangnya. Hanya saja memodifikasi tidak merancang dari awal. Untuk merancang barang elektronik, seseorang harus mengerti teori elektronika, bisa melakukan pengukuran yang diperlukan, dan mampu menganalisa rangkaian mana saja yang tidak optimal. Tentu saja hal ini tidak mungkin dilakukan oleh kebanyakan tukang service atau yang hobi merakit. Kadang-kadang orang tersebut harus lebih pintar daripada engineer yang merancang alat elektronik tersebut. Coba saja tanyakan kepada tukang service elektronik, bagaimana cara menurunkan Total Harmonic Distortion pada sebuah amplifier.  Mungkin istilah Total Harmonic Distortion baru saja dia dengar. Tukang service tugasnya adalah mengembalikan fungsi barang elektronik yang rusak, dan dalam perbaikan itu mungkin saja terjadi penurunan kualitas.

Sedangkan orang yang hobi merakit elektronika banyak yang tidak mengerti cara pengukuran spesifikasi dari alat elektronik. Mereka hanya memodifikasi dengan cara coba-coba dengan alat ukur telinganya saja. Ganti komponen yang murah dengan komponen yang mahal. Ketika ditanya apa fungsinya komponen tersebut kenapa nilai komponen tersebut dipilih oleh perancangnya, sebagian besar tidak bisa menjawab.

Blog-blog lokal yang memuat artikel modifikasi amplifier umumnya juga dilakukan oleh orang yang tidak mengerti cara merancang amplifier. Alasan teknis yang dipaparkan seringkali tidak berdasar, hanya berdasarkan dugaannya saja. Namun sepertinya banyak yang percaya.

Sebenarnya bisnis memodifikasi peralatan audio adalah bisnis yang merugi kalau dilakukan dengan benar. Dalam melakukan modifikasi, dia harus melakukan hampir semua proses seperti saat perancangan awal produk tersebut. Bedanya, dia hanya dibayar atas satu barang dalam proses modifikasi tersebut, sedangkan engineer yang merancang produk massal dibayar cukup tinggi karena banyaknya produk yang dibuat atau dijual.

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 21 Maret 2014 in Audio, Uncategorized

 

Tag: ,

6 responses to “Memodifikasi Peralatan Audio

  1. Arif Bduiyanto

    2 April 2014 at 10:05

    salam kenal mas Bimo Only

     
  2. hmmm

    6 April 2014 at 07:42

    anda sendiri mau ga kalo diminta orang untuk memodif alat audionya?

     
    • anistardi

      6 April 2014 at 08:19

      Kadang2 mau kalau ada waktu, tapi saya tidak janji bahwa pasti berhasil. Harus dicek dan diukur dulu. Kalau bisa dioptimalkan disainnya dengan dana kurang dari 1/3 harga barangnya, maka layak dilakukan modifikasi. Modifikasi hanya mengisi waktu saja, lebih menguntungkan disain semua dari awal. Sebenarnya kalau dihitung waktu analisa modif itu rugi karena lama.

       
  3. kang fawzee

    12 November 2014 at 11:43

    Mangkanya sampai saat ini saya tidak menerima kalau ada orang pesen power, kadang memang terasa besar menerima uangnya ketika dibayar….tetapi bila dihitung dengan waktu yang digunakan masih kalah dengan tukang potong yang kerjanya hanya 15 menit tapi dibayar rp. 7000.

    Artinya tukang potong dalam 1 jam bisa menghasilkan uang 48.000 tanpa garansi, kalau sehari 5 jam kerja udah hampir rp.250.000.
    Sementara ngoprek/modifikasi peralatan audio kadang waktu yang dibutuhkan lebih dari 5 hari.

     
  4. anistardi

    12 November 2014 at 12:45

    Bener. Biasanya kerja yang memerlukan otak bayarannya lebih mahal daripada yang hanya pakai otot saja. Tapi memang tenaga kerja Indonesia dihargai rendah baik oleh orang Indonesia sendiri juga oleh orang asing.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: