RSS

Modul Output Triple Emitter Follower

17 Feb

Membuat PCB output dan input terpisah pada sebuah amplifier sangat berguna untuk percobaan. Biasanya modul output jauh lebih mahal karena terdiri atas beberapa pasang transistor daya dan pendingin yang cukup besar. Akan lebih hemat jika kita mempunyai modul output dan bereksperimen dengan modul input. Adalah Ostripper, member dari www.diyaudio.com yang menggagas ide pembuatan modul 3 pasang tripple emitter follower. Gagasan pembuatan modul output bukan hal baru, Astx yang juga member www.diyaudio.com membuat amplifier dengan modul output berupa double emitter follower.

Yang dimaksud dengan tripple emitter follower adalah 3 transistor yang dirangkai berurutan sebagai emitter follower. Transistor tersebut berupa pre-driver, driver, dan output. Di sini transistor output di paralel sebanyak 3 dan mampu bekerja dari catu daya +-44V sampai +-63V. Untuk aplikasi PA amplifier atau audio-pro sebaiknya memakai tegangan +-44V sedangkan untuk aplikasi amplifier untuk digunakan di rumah bisa memakai tegangan sampai +-63V. Umumnya tripple emitter follower cenderung berosilasi dan sulit distabilkan terhadap suhu. Namun ada beberapa cara untuk mencegahnya berosilasi. Yang pertama adalah memakai transistor pre-driver yang fT-nya lebih rendah daripada fT transistor driver dan transistor output. Yang kedua adalah menambahkan rangkaian kompensasi berupa kapasitor dan resistor pada transistor driver agar transistor driver “lebih lambat”. Sedangkan untuk menstabilkan arus bias pada transistor output, digunakan rangkaian VBE multiplier yang cukup kompleks. Umumnya rangkaian VBE multiplier menggunakan 2 transistor.

Rangkaian modul output triple emiiter follower (3EF) ada di bawah ini.

 3EF OUT AMP ver1.sch_01

Q3 dan Q6 adalah pre-driver. Q1 dan Q9 harus dipasang salah satu demikian juga Q2 dan Q10. Q9 dan Q10 setipe dengan transistor output, sedangkan Q1 dan Q2 adalah transistor dengan kemasan TO-220 yang biasanya memiliki fT yang lebih tinggi daripada transistor output. Jika dipilih Q1 dan Q2 maka rangkaian kompensasi R35, R36, C26, dan C27 harus dipasang. Transistor outputnya sendiri adalah Q11 – Q16.

VBE multiplier dibentuk oleh Q5 dan Q7. Arus kolekor transistor ouput diatur dengan trimpot R16, yaitu sebesar 60-70 mA. Sedangkan Q4 dan Q8 adalah capacitance multiplier untuk meningkatkan PSRR.

Saya sendiri sudah berhasil mengimplementasikan rangkaian ini. Pemilihan transistor sedikit berbeda dengan disain dari Ostripper. Saya berhasil membuat rangkaian ini tidak berosilasi dan stabil terhadap suhu. Dengan modul output ini saya merancang 2 buah modul input dengan topologi VFA dan CFA. Foto-fotonya ada di bawah ini.

 VFA3VFA2

3EF

Rangkaian prototype ini masih belum sempurna. Saya ingin menyempurnakannya dan akan menawarkannya dalam bentuk PCB atau kit.

 
32 Komentar

Ditulis oleh pada 17 Februari 2014 in Audio, Uncategorized

 

Tag: , ,

32 responses to “Modul Output Triple Emitter Follower

  1. Joko

    12 Maret 2014 at 21:13

    “Rumble” by ostripperr
    apa betul kang bimo..
    Salam
    joko

     
    • anistardi

      13 Maret 2014 at 00:12

      Maksudnya betul, betul apanya? Saya sendiri mengikuti konsep disain Ostripper di thread “Rumble…”
      Sudah mencobanya, tapi tidak mengikuti disainnya sama persis.
      Yang saya ikuti prinsip modularnya yaitu PCB output dan input terpisah. Ini memudahkan dalam bereksperimen.
      Yang kedua prinsip cara menstabilkan triple emitter follower terhadap suhu, yang diadopsi Ostripper dari amplifier Harman Kardon HK990.
      Nilai komponen dalam disain saya sedikit berbeda dengan Ostripper, ini karena filosofi disain saya agak berbeda dengan Ostripper, jadi “trade-off” nya juga berbeda. Jika Bapak Joko ingin mengikuti disain dari Ostripper, silakan saja.

       
  2. Joko

    13 Maret 2014 at 15:28

    Trima kasih atas penjelasannya kang bimo….
    yang saya maksud ”betul” adlah apa yang sudah di jabarkan di atas…
    Saya baru sekilas baca 2,, kebetulan lay out hampir mirip dengan gambar yg di upload ”thimios”
    dan banyak juga yg di modif nilai komponennya,

    salam Diyers
    @@
    joko

     
    • anistardi

      14 Maret 2014 at 01:18

      Saya yang pertama mendukung ide Ostripper dengan membuat modul output dan input terpisah, lalu diikuti Naf.
      Disain dari saya bisa didownload di thread tersebut.
      Thimios mengikuti secara persis disain dari Ostripper, baik nilai komponen dan layout.
      Ostripper pun juga menerima masukan dari saya dengan menambahkan opsi kompensasi pada transistor driver di modul output.

       
  3. Joko

    14 Maret 2014 at 19:45

    Salut buat kang bimo,,, moga genrrasi eltro kedepan lebih maju & bisa bersaing dengan pabrikan,,,
    aminn..
    Lanjut eksekusi nya kang,,,,
    salam
    @@
    joko

     
    • anistardi

      16 Maret 2014 at 01:40

      Saya pernah jadi engineer pada produk elektronik pabrikan merk Jepang. Sudah pasti bangsa kita bisa bersaing dalam membuat disain produk elektronik. Namun untuk bersaing dengan buatan pabrik butuh dana yang besar. Pembuatan prototype sampai ke produksi masal saja perlu beberapa tahapan. Pengecekan produk juga memerlukan alat-alat ukur yang sangat mahal. Perlu ruangan yang suhunya bisa diatur dari minus beberapa derajat sampai 50 derajat celsius, untuk memastikan produk tersebut bisa berfungsi dengan normal pada target suhu yang diinginkan.
      Saya ingin mengingatkan juga kepada dosen teknik elektro agar tidak terlalu “textbook” dalam mengajarkan materi tentang elektronik. Mahasiswa perlu diajarkan wawasan tentang cara mendisain suatu produk elektronik. Universitas perlu memiliki alat2 ukur yang memadai untuk bereksperimen.

       
  4. gedexs

    17 Oktober 2014 at 21:44

    malam pak Bimo boleh saya tanya masalah power amp disini ???

     
    • anistardi

      18 Oktober 2014 at 07:57

      Silakan. Kalau saya tahu akan saya jawab🙂

       
  5. gedexs

    19 Oktober 2014 at 18:48

    terima kasih sebelumnya…yang saya ingin tanyakan bagaimana agar kita tau bahwa sebuah power amp { terutama rakitan } bisa/mampu bekerja di beban 8ohm…40hm…16ohm…dan 2ohm…secara kasar/fisik…maklum saya pemula…terima kasih banyak Pak Bimo atas pencerahanya

     
    • anistardi

      19 Oktober 2014 at 19:08

      Misalnya kita anggap kemampuan arus trafo mencukupi. Lalu kita lihat transistor finalnya memakai transistor apa. Tiap-tiap transistor final memiliki disipasi daya maksimal yang berbeda-beda dan grafik Safe Operating Area (SOA) yang berbeda-beda. Ini bisa dilihat pada datasheet transistor tersebut yang bisa di download gratis. Intinya dengan beban berapapun, transistor tersebut harus bekerja dalam batas grafik SOA-nya. Jika kita mensimulasikan rancangan tersebut akan ketahuan garis beban transistornya. Contoh: 2SC5200 pada tegangan power supply +-45V pada beban 8 Ohm cukup satu pasang, untuk beban 4 Ohm 2 pasang.
      Kalau ingin diuraikan secara detail, bisa satu bab dari sebuah buku.
      Kalau belum paham uraian saya, berarti dasar elektronikanya belum menguasai. Bisa belajar dulu teori elektronika terutama cara kerja dari transistor.

       
  6. gedexs

    19 Oktober 2014 at 19:14

    terima kasih banyak pak bimo….saya sengaja tanya disini soalnya pak bimo di dalam memberi penjelasan lebih detail dan mudah di pahami…itu saya lihat di forum sebelah solf…..disitu pak bimo lebih aktif menjawab dari pada momodnya…hehehe terima kasih banyak salam

     
    • anistardi

      19 Oktober 2014 at 19:19

      Salam kembali. Mungkin suatu saat akan saya tulis artikel tentang Safe Operating Area (SOA) ini.

       
  7. gedexs

    19 Oktober 2014 at 19:23

    sekali lagi banyak terima kasih dan mohon ijin untuk belajar di blog anda ini…??!!

     
    • anistardi

      19 Oktober 2014 at 19:31

      Ngga perlu ijin untuk belajar😀
      Selama untuk keperluan pribadi, semua materi yang ada di blog ini bebas digunakan.
      Silakah tulis kritik dan sarannya juga.

       
  8. gedexs

    19 Oktober 2014 at 19:43

    siappp ini memang untuk kepentingan pribadi…electro cmn hoby saya bukan pekerjaan Pak Bimo dan saya berharap pak Bimo tidak bosan menjawab pertanyaan saya…hehehe

     
  9. snada2ck@gmail.com

    18 Januari 2015 at 00:02

    Pak Anis … mohon maaf sebelumnya kalau pertanyaan saya terlalu awam perihal TEF( Triple Emitter Follower).samakah topologi yang disebut dengan TEF dengan 3 tingkat transistor?

     
    • anistardi

      18 Januari 2015 at 03:38

      Beda. Amplifier 3 tingkat hanya sekedar nama, ngga ada hubungannya dengan cara kerjanya.

       
  10. snada2ck@gmail.com

    18 Januari 2015 at 00:17

    seandainya Pak Anis disuruh memilih class amplifier, antara class H dan class AB tentunya dengan kwalitas yang sama bagus…kira-kira Pak Anis pilih yang mana?
    Jujur saya sangat menyukai Blog ini, karena semua tentang Electronika, utamanya Amplifier yang dikupas tuntas Oleh Pak Anis.
    terima kasih atas semuanya pak.

     
    • anistardi

      18 Januari 2015 at 03:41

      Jika sama kualitasnya maka class H lebih efisiensi namun lebih rumit daripada class AB. Jadi pilih class H🙂 namun untuk membuat class H sama kualitasnya dengan class AB yang dirancang dengan baik, sulit.

       
  11. snada2ck@gmail.com

    18 Januari 2015 at 17:11

    terima kasih pak atas masukannya … oh iya pak.apa Pak Anis tidak ada niat untuk membuat buku atau e-book perihal artikel amplifier yang dimuat di blog ini?soalnya untuk saat ini,saya sulit sekali mendapatkan buku atau e-book yang menerangkan masalah amplifier yang berbahasa indonesia.
    terima kasih atas semuanya pak …

     
  12. snada2ck@gmail.com

    18 Januari 2015 at 17:13

    pada prinsipnya kalau class AB dirancang dengan baik,maka akan lebih baik dari Class H/G ya pak?

     
    • anistardi

      18 Januari 2015 at 17:49

      Bukan begitu kesimpulannya. Lebih sulit merancang amplifier class H dan G dengan kualitas sama daripada merancang dengan class AB. Class H dan G akan selalu timbul noise saat power supply nya di switch. Cukup sulit untuk meredam noise ini. Class H dan G juga lebih banyak komponen sehingga layout nya juga lebih sulit.

       
  13. snada2ck@gmail.com

    18 Januari 2015 at 21:39

    Apa Pak Anis tidak ada niat untuk membuat buku atau e-book perihal artikel amplifier yang dimuat di blog ini?soalnya untuk saat ini,saya sulit sekali mendapatkan buku atau e-book yang menerangkan masalah amplifier yang berbahasa indonesia.

     
    • anistardi

      18 Januari 2015 at 21:57

      Waduh, soal ini perlu riset yang lebih mendalam dan harus dibuat terstruktur. Kalau menulis pada blog, temanya bisa apa saja dan berdasarkan pemahaman saya saat itu. Kalau ada penerbit yang mau, bisa saya pertimbangkan….

       
  14. snada2ck@gmail.com

    18 Januari 2015 at 21:40

    maaf Pak…pertanyaanya seditkit out of topic

     
    • ardy dean

      14 Maret 2016 at 10:02

      wah mau coba saya mas anistardi, ada pcbnya lagi nda? atau boleh sy pinjem dulu itu modulnya buat ngetes

       
  15. Ardhi

    6 Mei 2016 at 18:25

    Pak bimo sy ardi dr pemalang. Yg mau sy tnyakn cara kerja dari modul tef bagaimana
    . apakah fungsinya untuk menurunkan distorsi di kelas A/AB. Agar sy lebih mengerti dan mudah dipahami. Trims…..

     
    • anistardi

      7 Mei 2016 at 20:19

      Agar cacatnya lebih kecil jika dibebani dgn impedansi rendah.

       
  16. Ronie

    8 Mei 2016 at 23:26

    slm kenal P.ANIS !dari sekian banyak nya blog/webs…yg mengulas tentang dunia electro lebih2 pd audio,sya sangat senang dgn ulasan2 yg bapak berikan pd kita..lebih2 bagi yg baru belajar sperti sy..!!!Trims…

     
  17. ardhi

    13 Mei 2016 at 21:26

    Terima kasih pak bimo. Penjelasan yg singkat tapi mudah dipahami. Semoga sukses selalu untuk pak bimo….

     
  18. Fathurrohman

    30 November 2016 at 15:43

    Salam Pak saya mohonizin untuk mengikuti Blog Bapak ini

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: