RSS

Cossover Aktif VS Crossover Pasif

25 Apr

Dengan tehnologi sekarang ini, orang belum mampu membuat speaker (driver) yang mampu menghasilkan semua nada yang bisa didengar oleh manusia, yaitu dari 20 Hz – 20 kHz. Maka dibuatlah woofer untuk menghasilkan frekuensi rendah atau bas, midrange untuk menghasilkan frekuensi tengah atau vocal, dan tweeter untuk menghasilkan frekuensi tinggi atau treble. Memang ada speaker fullrange, namun rentang nadanya biasanya sekitar 100 Hz – 12 kHz.

Untuk menghasilkan seluruh nada yang bisa didengar manusia, maka diperlukan kombinasi beberapa speaker dalam satu kotak. Ada yang memakai 2 speaker yang biasa dinamakan 2 way dan ada juga yang memakai 3 speaker yang biasa dinamakan 3 way. Ini yang umum dipakai. Sebenarnya ada sistem 2.5 way, 4 way, dan sebagainya. 2.5 way adalah sistem speaker yang memakai 2 woofer yang sama tapi salah satunya bekerja dalam rentang nada yang lebih sempit daripada lainnya. Ini untuk menghasilkan nada rendah yang lebih kuat (bas bulat, deep).

Dalam sistem banyak speaker ini tidak bisa speaker-speakernya langsung dihubungan secara paralel atau seri karena jika speaker dipaksa bekerja untuk menghasilkan nada diluar kemampuannya, speaker tersebut menghasilkan suara yang cacat bahkan bisa rusak. Agar tiap-tiap speaker bekerja di batas-batas kemampuannya maka diperlukan crossover. Crossover ini gunanya untuk memisahkan nada-nada agar tiap-tiap speaker bekerja dalam batas-batas kemampuannya dan agar sistem speaker menghasilkan bunyi yang sama kerasnya untuk setiap nada-nada yang dihasilkan (frekuensi respon yang flat).

Awalnya crossover diletakkan setelah amplifier dan umumnya dalam kotak speaker. Crossover tipe ini memakai komponen induktor (gulungan kawat), kapasitor, dan resistor. Karena memakai komponen pasif maka disebut crossover pasif. Kemudian tehnologi berkembang, diciptakanlah crossover yang diletakkan sebelum amplifier. Crossover tipe ini memakai komponen aktif seperti op-amp atau transistor, resistor, dan kapasitor.

Contoh sistem crossover pasif:

Image

Contoh sistem crossover aktif:

Image

Tiap-tiap tipe crossover memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Kelebihan crossover pasif:

–          Sistem sederhana. Crossover pasif bisa dimasukkan ke dalam kotak speaker.

Kelebihan crossover aktif:

–          Lebih mudah dan lebih fleksibel dalam perancangannya.

–          Kalau dirancang dengan baik, hasilnya melebihi daripada memakai crossover pasif.

–          Relatif lebih murah jika digunakan untuk speaker yang dayanya rendah.

–          Lebih mudah untuk mendapatkan imaging/staging yang bagus.

Kekurangan crossover pasif:

–          Tidak efisien. Rugi-rugi daya terjadi di rangkaian crossover. Jadi tidak cocok untuk speaker yang dayanya rendah atau yang efiensinya rendah.

–          Lebih sulit dalam perancangannya.

–          Sulit mencari nilai kapasitor yang diperlukan. Kapasitor perlu yang baik seperti polypropelene yang nilainya sedikit berubah dengan bertambahnya umur kapasitor tersebut. Kapasitor nonpolar atau bipolar nilainya berubah besar dengan bertambahnya umur. Dan tidak disarankan memakai kapasitor electrolyte (elco) karena kualitasnya lebih jelek daripada kapasitor nonpolar atau bipolar.

–          Untuk tipe-tipe speaker tertentu perlu orde filter yang tinggi sampai 4 orde, sehingga filter menjadi kompleks dan mahal.

–          Lebih susah untuk mendapatkan imaging/staging yang bagus.

Kekurangan crossover aktif:

–          Sistem lebih kompleks karena tiap-tiap speaker memerlukan amplifier tersendiri.

–          Lebih mahal untuk speaker yang berdaya besar karena amplifier berdaya besar umumnya lebih mahal daripada crossover pasif.

Akhir-akhir ini di pasaran banyak muncul speaker-speaker aktif yang memakai tehnologi crossover aktif. Ini bisa dimaklumi karena speaker aktif umumnya berdaya rendah. Crossover aktif juga sering digunakan pada tata suara panggung (live) yang lebih mementingkan efisiensi daya. Lebih efiesien meletakkan amplifier sedekat mungkin dengan speaker, sehingga bisa memakai kabel speaker sependek mungkin. Rugi-rugi daya di kabel speaker bisa ditekan sekecil mungkin.

Depok, 25 April 2013

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 25 April 2013 in Audio, Uncategorized

 

Tag: , ,

8 responses to “Cossover Aktif VS Crossover Pasif

  1. Youono

    7 Februari 2014 at 07:10

    mas bisa minta contoh skema rangkaiannya antara crosover keduanya trims….

     
    • anistardi

      7 Februari 2014 at 11:38

      Mungkin nanti saya akan bikin artikel khusus crossover aktif. Kalau tentang crossover pasif sudah banyak yang membahasnya.

       
  2. Rere Lalona

    20 Februari 2014 at 03:20

    terimakasih ulasannya, jadi tahu dimana perbedaanya. Salam kenal dari kami TOA Jogja, semoga dilain kesempatan bisa bekerja sama.tks

     
  3. MARJU JOGJA

    17 Juli 2014 at 05:11

    MAS MAU TANYA UNTUK CROSS OVER AKTIF YANG BAGUS MEREK/TIPE APA

     
    • anistardi

      17 Juli 2014 at 05:25

      Maaf saya tidak pernah beli kit elektronik lebih dari 10 tahun yg lalu. Saya pernah bikin disain crossover aktif 2 way. Perancangan crossover aktif cukup mudah, bisa ditemukan artikelnya di sini. Saya juga memberika simulasi crossover aktif 2 way yg frekuensinya bisa diatur. Saya muat di solfegio.com.

       
      • aril

        22 November 2014 at 20:06

        crossover pasif bisa menyebab kan driver high serak mas?

         
      • anistardi

        22 November 2014 at 21:05

        Bisa saja jika frekuensi crossovernya tidak tepat. Hindarkan frekuensi yang menyebabkan terjadinya cone break up pada tweeter.

         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: